Kesadaran Dibalik yang Tertidur Lelap
Aprilia Annisa
Semakin hari semakin mencemaskan. Mereka adalah para pelajar yang mengejar nilai untuk mendapatkan ketuntasan tanpa memahami apa yang diketahui. Terlihat sudah beberapa anak yang bolak-balik hilir-mudik memasuki ruang guru untuk mengisi nilai mereka yang kosong ataupun belum mencapai Standar Kelulusan Belajar Mengajar (SKBM). Selagi teman-teman yang asyik mengurus semua hal itu, hanya seorang siswi yang terlihat santai tak berbeban duduk dibawah pohon cemara taman sekolah. Ranny, biasa orang memanggil lembut namanya. Gadis bertubuh tinggi semampai, rambut panjang terurai dan paras yang elok dipandang dengan kacamata khas yang tidak pernah terlepas dari mata indahnya. Menurut pandangan disekitar, Ranny merupakan siswi yang acuh tetapi ramah dan sangat tidak mau peduli dengan segala macam hal yang tidak mendukung didalam area masa depannya.
Disisi lain sebagai pelajar, Ia juga merupakan penulis. Di dalam hobby itulah mulai dari hal kecil yang membahagiakan hingga yang sangat tak berkenan di hati Ia curahkan. Aku cukup takluk dengan kekaguman yang ditebarkannya di hadapanku. Ia tak pernah mendapatkan prestasi di kelas, tapi Ia termasuk siswi yang sangat berprestasi. “Aku tidak akan dan tidak ingin mengubah dunia karena aku hanya ingin mengubah keterpurukan Indonesia dari segala permainan di gelapnya mata menjadi cahaya yang akan menunjukkan keagungan sinar-binar yang terpancar ” Kutipan di cerpennya yang kubaca menandakan ketidakselarasan pola pikir seorang pelajar dengan pemikiran pemerintah mengenai sistem pendidikan di Indonesia. Sayangnya, Ia bukanlah seorang penulis yang memaparkan curahan itu kedalam bentuk media, melainkan hanya disimpan rapi untuk menjadi tumpuan keras bagi perjalanan masa depannya.
Hari ini tak ubahnya seperti hari kemarin, tak menjadi lebih buruk ataupun lebih baik. Hanya orang yang menyia-nyiakan kesempatanlah yang akan mengatakan “Aku telah ditelan waktu”. Ia bukanlah gadis yang tidak mau berbuat untuk menjadi sosok yang lebih baik, akan tetapi cara pandang personal yang membuat Ia tidak akan mengikuti jejak teman-teman di sekolahnya.
“Aku tahu bahwa kegiatan itu bukan hanya terjadi disini, tetapi disetiap pelosok Negeri Indonesia. Aku tidak akan mencari sebuah nilai yang tidak berdiri kekal, tetapi aku hanya akan mencari ilmu pengetahuan yang mampu menghidupiku selamanya,” Ujarnya kepada salah seorang guru Sastra Indonesia disana. Ia tidak pernah setuju dengan keharusan siswa untuk mencatat pelajaran saat diberi catatan sebelum mereka memahaminya, tindakan siswa-siswi yang meminta kisi-kisi seminggu sesaat sebelum ujian semester diadakan, memasukkan sebagian pengajaran IPS kedalam Program IPA ataupun sebaliknya dan lain-lain. Hal yang bersangkutan tersebut sangat dianggapnya tidak penting dan hanya akan menciptakan pribadi yang tidak mandiri di dalam diri seorang siswa bahkan tanpa mereka sadari, kegiatan seperti itu hanya akan membuat diri pelajar menjadi terpuruk dan menghancurkan harapan di kehidupan mendatang yang hanya akan bisa terus bermimpi tanpa dapat meraihnya.
Keletihan yang teramat sangat membuatku ingin bersantai sejenak di kantin bersama teman-teman sekelas untuk melepas penat seusai melaksanakan ujian semester yang telah berakhir pada hari ini. Entah mengapa mereka memusingkan pikiran dengan beberapa remedial yang harus dikerjakan. Sedangkan, gadis berkacamata itu tak meresahkan layak sahabatnya.
Dibalik rintik hujan yang deras, aku melihat ia berlari terburu-buru dikoridor memasuki ruang kepala sekolah. Apapun yang ia lakukan pasti hal itu sangat bermanfaat bagi dirinya. Aku sedikit memutar otak untuk mengingat kembali beberapa kisah yang kualami dari hari ke hari. Aku menyatakan pro pada pendapat-pendapat yang di utarakan oleh gadis itu. Terakhir, di perpustakaan, aku berdiskusi kecil bersama Ranny, Pak Andi, Pak Roni, dan Ilyas mengenai sikap pelajar terhadap pendidikan yang mereka terima. Kebanyakan para pelajar mengatakan “Bosan” belajar. Sebagian dari mereka juga tidak dapat memfokuskan diri dengan apa yang sebenarnya menjadi cita-cita yang akan mereka wujudkan. Bahkan perbincangan inipun berimbas kepada sistem pendidikan yang seperti inilah yang memperbanyak pengangguran dan penurunan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM).
Jika dikaitkan, satu persatu dari permasalahan yang ada merupakan “Penyebab yang disebabkan”. Setiap orang mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tetapi aku merasa, di Indonesia pengembangan suatu bakat atau kelebihan sangatlah minim. Pemerintah Indonesia meminta agar para generasi muda berpikir kritis dalam segala macam hal karena mereka merupakan generasi penerus bangsa. Sedangkan banyak kita saksikan diberbagai media, pemikiran para remaja tidak ditanggapi serius. Kerap kali mengganggap bahwa generasi muda seperti anak kecil yang merengek meminta uang jajan kepada orang tuanya.
Sesuatu yang sangat tidak perlu untuk dipermasalahkan ternyata itu bisa disebut dengan masalah yang teramat besar bagi negeri ini. Mengapa pelajar bosan untuk belajar? Pemaparan permasalahan itu yang dibahas bersama Pak Andi, Kepala Sekolah ku. Sebenarnya tidak ada kata bosan yang menghampiri para belajar, hanya saja tak ada inovasi baru yang bisa membuat para pelajar merasa tertarik untuk belajar. Tidak sedikit yang mengeluhkan, terlalu banyak hal yang harus dipikirkan dalam belajar, tuntutan pemenuhan nilai, pemahaman disetiap materi, ulangan dadakan dan apapun segala bentuknya. Kebijakan itu menjadikan mereka tidak dapat memahami dan mengerti penuh terhadap apa yang mereka pelajari. Bisa kita lihat di luar negeri, pendidikan mereka sejak kecil adalah pendidikan yang memfokuskan diri sesuai dengan bakat dan minat sehingga tidak ada lagi gangguan dalam belajar. Mereka juga dapat mengaplikasikan ilmu yang di peroleh, kegiatan seperti itu yang sebenarnya mendukung proses belajar-mengajar menjadi lebih baik. Jadi yang dituntut bukanlah sebuah nilai, tetapi seberapa besar mereka mengerti dengan ilmu yang sedang dijelajahinya.
“Jika hal itu terlaksana di tanah air ini, bisa kita bayangkan, berapa banyak SDM yang kualitasnya meningkat. Mereka para pelajar, dapat memahami sejak kecil betapa pentingnya belajar dan mereka bisa menanamkan suatu hal yang memang benar-benar mendukung untuk cita-cita yang sangat penting untuk diwujudkan. Hal itu tak lepas juga dari bantuan lingkungan sekitarnya dan lingkungan sekolah terhadap siswa-siswi berprestasi dan proses peningkatan belajar yang juga memberikan kesempatan terhadap semua pelajar secara merata. Lalu, dalam kasus seperti ini timbul lagi sebuah permasalahan, bagaimana cara membuat semua hal ini terlaksana sedangkan diluar sana orang-orang hanya mementingkan apa yang dapat menjayakan diri mereka sendiri?” Jelas Ranny.
Menurut penegasan Pak Andi, hal yang serupa telah menjadi sarapan pagi oleh beberapa kepala sekolah yang ada di kota ini. Sangat tidak mungkin untuk mengubah suatu tatanan secara luas dan di Indonesia, pendidikan juga salah satu proyek untuk dipolitikkan. Maka dari itu, yang bisa dilakukan hanyalah cara kita untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas sekolah, baik sekolah pemerintah ataupun yayasan.
“serta yang wajib ditingkatkan yaitu mendidik dan membuka pola pikir remaja khususnya para pelajar untuk dapat lebih mengaplikasikan langsung apa yang terekam dikepala mereka selama mendapat pengetahuan disekolah. Setidaknya sekolah kita bisa menunjukkan dan menjadi penutan sekolah lain untuk juga menerapkan hal yang serupa.”
“Benar, Yas! Kita ciptakan didalam diri sendiri, lalu kita bagikan kepada sesama. Kamu, Ranny dan Eka dapat membuat sebuah panitia dan membentuk program kerja sosialisasi untuk mengisi kegiatan “Class Meeting” yang tentunya bertema dengan apa yang kita bicarakan saat ini,” Tambah Pak Roni yang menyemangati dan mempercayai aku dan teman-teman.
Seusainya, kami menyiapkan hal-hal yang diperlukan untuk merancang program sosialisasi tersebut. Harapan akan tetap menjadi harapan. Yang tersirat di dalam benakku hanyalah, suatu saat nanti aku akan mewujudkan harapan yang belum tersampaikan untuk diriku dan seisi tanah air ini. Aku, Ranny dan Ilyas, pelajar remaja yang sangat peduli untuk jalan hidup mendatang tetapi perlahan akan berusaha menjadikan remaja-remaja Indonesia untuk terus memperjuangkan apa yang seharusnya mereka dapatkan. Langkah ini adalah awal dari perjalanan kami. Harapan yang paling besar agar suara ini tidak di acuhkan oleh mereka yang berkuasa, oleh mereka yang memimpin dan oleh mereka yang mengatur. Turut serta tangan dan kesadaran mereka juga sangat berarti untuk menjadikan hal kecil ini menjadi sangat bermakna untuk keseluruhannya.
Jambi, 07 Desember 2011
( Dipersembahkan untuk para pelajar, khususnya siswa-siswi
Camp. Unggul Sakti dan bagi mereka yang tertidur lelap didalam kesadaran)