JAKARTA-Jika biasanya duel meet kerap dicitrakan dengan mempertemukan dua pribadi yang berada pada posisi
berseberangan, dalam konser bertajuk “An Exclusive Experience with Tompi, Glenn Fredly, dan Sandhy Sondoro”, ada tiga persona yang mengadu kekuatan teknik vokal, sekaligus kejenakaannya masing-masing.
Demikian yang terjadi ketika Trio Lestari —demikian Tompi, Glenn, dan Sandhy secara membumi menamakan keberadaan trio mereka— menggelar konser pembuka di Ballroom Central Park, Jakarta, Jumat (17/6) malam, lalu. Sebagai kota pembuka, kesuksesan konser di Jakarta diharapkan dapat menjadi awal keberhasilan di enam kota lainnya, Manado, Makassar, Surabaya, Pekanbaru, Medan, dan Balikpapan. Setelah sebelumnya Kota Yogyakarta dan Solo menjadi semacam konser percontohan trio tersebut.
Dan di Jakarta, baik Tompi, Glenn maupun Shandy yang tampil secara bergantian dengan masing-masing membawakan lima single, sebelum akhirnya menyeruak bersama ke atas panggung, menunjukkan aksi bagaimana teknik vokal seharusnya dikelola. Bukan itu saja, Tompi yang menjadi penampil pertama, setelah sebelumnya seorang penyanyi perempuan bernama Davina membuka dengan single “Ku Tak Bisa” milik Slank, menunjukkan sebuah standar olah vokal yang tidak main-main.
Dengan iringan musik berirama jazz ringan dan terkadang dilaraskan dengan corak fushion, lengkingan vokal dan teknik bernyanyi Tompi seperti ingin mengatakan bahwa dia mempunyai aras tersendiri sebagai seorang penyanyi solo. Demikian yang terlihat ketika single-nya “Menghujam Jantungku”, “Bukan Pacarmu”, dan “Aku Jatuh Cinta” mengalir.
Kerap kali, di sela-sela lagunya, dokter spesialis kulit itu juga memamerkan teknik vokal layaknya solois jazz terkemuka dunia, Alwin “Al” Lopez Jarreau atau Al Jarreau. Di Indonesia, teknik vokal dalam menirukan nada gitar juga kerap dipertunjukkan penyanyi senior Mus Mulyadi.
Citra Vokalis Andal
Jika Tompi sangat teknis dalam menghantarkan sejumlah lagunya, lain halnya dengan Glenn yang gemar menembangkan lagu bertema “Waktu Indonesia bagian Galau,” katanya dari atas panggung. Maksudnya, lagu-lagunya yang ia bawakan seperti “Sekali Ini Saja”, “Linda (I want you)”, “Sedih tak Berujung”, dan “Menikahlah Denganku” pada dasarnya bernarasi tentang rasa bimbang. Atau dalam bahasanya, dia sebut perasaan penuh ketidakpastian dalam menunggu jawaban sayang, “Dari seseorang yang sedang menjalin hubungan dengan yang lain,” katanya sendu.
Sebagaimana Glenn yang populer dengan kemerduan suaranya, lain halnya penampilan bintang anyar Sandhy Sondoro. Jawara salah sebuah festival olahvokal di Eropa itu, dengan power vokal yang konon dijuluki penjelmaan warna vokal Michael Bolton, menempatkan kekuatan suaranya pada rumahnya yang sangat terhormat. Via single “Malam Biru (Kasihku)” dan “When a Man Love a Woman”, penonton yang terlebih dahulu disuguhi kepelikan vokal Tompi dan keindahan suara Glenn, seperti mendapat tawaran nuansa anyar ketika Shandy menggeber vokalnya.
Pada nomor “When a Man Loves a Woman” yang kali pertama diperkenalkan Percy Sledge pada 1966 dan ditempatkan sebagai salah satu dari Billboard Hot 100 and R&B singles charts. Kemudian oleh majalah Rolling Stone dimasukkan sebagai salah satu dari 500 lagu terbaik sepanjang sejarah, dengan nomor urut nomor 54. Dan, kembali dijulangkan oleh Michael Bolton pada 1991 —yang kemudian membuatnya meraih Grammy Award— kelegendaan single itu seperti kembali dihidupkan oleh Sandhy.
Nah, pada sesi ketika mereka bertiga bergabung di atas panggung inilah, duel meet benar-benar terjadi. Keunikan masing-masing, setelah sebelumnya sesi srimulatan atau kejenakaan yang melibatkan Gading Martin, berhasil mengocok perut penonton. Trio Lestari benar-benar berhasil menancapkan citra mereka sebagai vokalis andal lewat tembang “Puncak Asmara” dan “I Heart You” milik Smash dalam balutan fushion.(G20-75)
Lahir dengan nama Teuku Adifitrian, atau lebih yang popular dengan nama Tompi pada tanggal 22 September 1978 di Lhokseumawe Aceh. Kesenian daerah Aceh sangat mendukung dengan hobi dan bakat Tompi di bidang seni terutama dalam hal tarik suara dan tari. Di Acehlah masa remaja Tompi di habiskan.
Hingga pada tahun 1997 ketika dia melanjutkan studinya di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, di sela-sela waktu kuliahnya bakat tersebut dilanjutkan dan dikembangkan dengan lebih banyak lagi belajar seni musik dan tarik suara bersama penyanyi jazz terkenal di Jakarta Bertha dan pianis Tjut Nyak Deviana.
Lelaki lajang yang kini sedang menyelesaikan studi spesialisnya di bidang bedah plastic ini juga mempunyai kemampuan untuk menulis lagu dengan bantuan alat perekam kecil atau telpon genggamnya. Dia mengambil inspirasi pembuatan lagunya dari suasana sekitarnya pada saat itu atau juga dari pengalaman-pengalaman teman-teman dekatnya.
Pada tahun 2002, penyanyi yang tidak canggung lagi tampil membawakan gaya funk, r&b, soul, hip hop, nu-jazz, swing dan bossanova ini berhasil mendapatkan tawaran untuk menjadi house band di The Bar, Hotel Four Season Jakarta setelah sekian lama malang melintang “ngamen” dari satu acara ke acara yang lain. Karier profesionalnya sebagai penyanyi bertambah lagi ketika kelompok band jazz fusion baru Cherokee pada tahun 2003 mengajaknya untuk menjadi vokalis kelompok tersebut tampil di Singapura. Di sana, Tompi mendapat julukan dari para penonton “Supervocalist” atau “Supersound”. Kesuksesannya tersebut diikuti bersama dengan tournya Cherokee di kota-kota di Jawa dan beberapa tempat lain. Sepertinya saat-saat tersebut menjadi titik tolak kepopuleran Tompi sehingga dikenal dan disukai para remaja dan sebagian penggemar musik jazz di Indonesia.
Namun tidak sampai di situ saja. Pada akhir 2004, Tompi pun bergabung dengan sebuah kelompok band etnis-fusion yang musisinya terdiri dari multinasional, Bali Lounge. Ketika tampil dalam Java Jazz Festival 2005 di Jakarta, mereka berhasil memukau ribuan penonton yang hadir. Satu hit terkenal dari kelompok ini dengan penampilan Tompi yang lebih menonjol adalah lagu ‘Something’s Wrong’.
Langkahnya seperti sulit dihentikan saja. Pada pertengahan tahun 2005 lalu dia dengan percaya diri tampil dalam album solo perdananya dengan judul yang simple, “T”, yang merupakan inisial nama popularnya. Materi dalam album ini sebagian besar adalah kumpulan lagu-lagi ciptaanya dahulu, walau ditambahkan dengan lagu-lagu barunya seperti ‘Selalu Denganmu’ atau ‘Dance With Me’. Keseluruhan album ini berisi 12 lagu yang setengah darinya lagu berbahasa Inggris. Tompi pun berharap album solonya ini dapat diterima oleh semua kalangan baik itu pecinta musik jazz maupun pop di tanah air.
Bagi Tompi, yang masih mempunyai akar kuat dari serambi Mekkah tersebut, kesuksesan dan kepopulerannya selama ini tidak menggelapkan hatinya untuk berterima kasih kepada Sang Maha Pencipta dan lupa terhadap penderitaan sanak saudara di Aceh setelah dilanda musibah nasional tsunami di akhir tahun 2004 yang lalu. Pada waktu bulan suci Ramadhan dan Idul Fitri 1426H yang lalu, Tompi juga terlibat dalam pembuatan album bareng-bareng “Soulful Ramadhan”. Sebuah album rohani dengan sentuhan modern namun tetap bernuansa padang pasir yang sangat khas dan kental dengan suasana Ramadhan. Selain itu, dia juga pernah membantu kelompok Groovology, Funkythumb dan Sova.
Suatu anggapan bahwa jazz memiliki sofistikasi tinggi sehingga
memerlukan kapasitas intelegensia yang lebih dari pada memahami musik non jazz,
boleh jadi merupakan sebuah klaim yang sewenang-wenang. Namun fenomena lebih
diterimanya harmoni dangdut daripada harmoni jazz, bukan semata-mata suatu
kebiasaan telinga seseorang menerima harmoni tersebut. Bahkan kita mesti
bertanya lagi ‘Harmoni jazz yang mana? Ragtime, swing, bebop, free jazz, fusion
atau yang lain?’ Pemahaman tentang hal ini akan semakin membuka mata, dengan
strategi apa mensosialisasikan jazz di tanah air tercinta? Karena untuk jadi
pemenang, kita mesti memandang dunia (dalam hal ini musik jazz) lebih lengkap
lagi. Historis, ideologis, dan gramatik musik jazz sendiri. Pendekatan
historis-pun jangan hanya terpaku ‘dari mana’ dan ‘kenapa dia lahir’, tetapi
juga ‘bagaimana dia dibesarkan’. Masalah gramatik musik, penulis disini akan
fokus memperlihatkan aspek-aspek yang Mempengaruhi kenapa harmoni jazz susah
diterima ‘telinga dangdut’ (maksudnya telinga kita semua yang hidup di negeri
dangdut).
Tonalitas dan Modalitas Sebagai Dasar Pembentukan Harmoni Jazz
Pertama kali adalah menyepakatai soal definisi harmoni. Secara
umum harmoni sering disebut dengan kata lain: keselarasan, keserasian,
kesesuaian, dan semacamnya. Di dalam kajian musikologis sering diartikan
sebagai keselarasan antar nada. Lebih khusus lagi keselarasan antar pitch. Baik
yang berbunyi secara vertikal (yang kemudian menjadi akord), ataupun yang
berbunyi secara horisontal (yang kemudian menjadi melodi).
Musik jazz konvensional (mainstream jazz) dibangun di atas harmoni
tonal, yang dikombinasikan dengan harmoni modal. Kenyataan ini mengingatkan
kita akan sebuah realitas bahwa jazz dibangun dari perpaduan dua budaya yang
berbeda di Amerika, kulit hitam – kulit putih. Yang berbanding lurus dengan
tradisi harmoni tonal – tradisi harmoni modal. Tradisi improvisasi – tradisi
komposisi. Fenomena ini di gambarkan secara gamblang oleh kemunculan big-band
di era dan gaya
swing, suatu jenis musik yang pertama kali dapat diterima oleh kedua ras yang
berbeda di Amerika. Gaya-gaya sebelum itu seperti ragtime, new-oerleans,
dixieland, dan kansasn-style, hanya berlaku di kalangan kulit hitam saja.
Namun free jazz, dibangun dengan pembaruan yang sangat mendasar,
yaitu pembebasan atas nilai-nilai tonal (free tonality) atau meminjam istilah
Arnold Schoenberg ‘atonal’. Karena free jazz memang sering dibandingkan dengan
perkembangan ‘musik seni’ yang merupakan perpanjangan dari perkembangan sejarah
‘musik tradisional Barat’ (renaesance, barok, klasik, romantik, modern,
postmodern). Oleh karena itu, segampang itukah ‘telinga dangdut’ menerima
harmonisasi free jazz yang mengadopsi estetika atonal? Karena nada-nada
penyusun musik dan tonalitas adalah natural dan inherent. Ini dibuktikan oleh
hadirnya fenomena akustik dengan overtoneseries yang dicetuskan oleh Phytagoras.
Sedikit melenceng dari tema, sebenarnya saya cukup keberatan
dengan klaim bahwa free jazz merupakan tonggak perkembangan jazz postmodern,
mengingat free tonality sebagai karakter utamanya. Bitonal, polytonal, atonal,
free-tonal, dan semacamnya merupakan buah dari rasionalisasi atas tonal,
kemudian membawanya terjebak lebih jauh dalam hitungan yang terlampau matematis
(meski begitu tidak semua musik yang malakukan distorsi terhadap tonal otomatis
menjadi terlampau matematis, hanya sebagian saja!). Bukankah pendewaan atas
rasio merupakan fenomena modernisme? Yang kemudian digugat oleh postmo.
Sementara twelve-tone, tone-row, dodecaphonic, atau serial music, sebagai
bentuk utama musik atonal – free tonal merupakan fenomena paling ekstrem dari
intelektualisme musik (barat) modern. Bagaimana mungkin free jazz yang
mengambil estetika musik modern dapat dikatakan sebagai tonggak postmo? Ironis
memang, karena salah satu proyek postmodern didalam musik adalah dekonstruksi
atas intelektualisme (yang kebablasan) dalam musik modern.
Mungkin kita jangan dahulu terlalu jauh melihat harmonisai free
jazz yang free tonal itu. Pertama kita akan memahami harmoni jazz konvensional.
Salah satu aspek pendukung harmoni jazz diambil dari sistem tonal. Tonalitas
sendiri dapat diartikan sebagai suatu sistem tatanan nada-nada sesuai dengan
hubungan hirarki antar pitch terhadap pusat nada yang disebut tonik. Tonik
sendiri berawal dari nada terrendah dari suatu tangga nada, yang kemudian
dikembangkan menjadi akord. Tonik berfungsi sebagai ‘pusat grafitasi’ bagi nada
maupun akord lain di sekitarnya. Pergerakan nada maupun akord yang membentuk
suatu frase dimotori oleh tegangan dan daya tarik menarik antara sifat
conconant dan dissonant dari akord maupun nada. Pergerakan akord dari conconant
ke dissonant dan kembali lagi ke conconant, disebut sebagai kadens. Kadens
inilah yang menjadi pedoman dasar bagi penetapan suatu nada menjadi tonik dalam
suatu frase musik.
Sementara modalitas merupakan tata aturan pergerakan nada-nada
yang telah dikembangkan sejak abad pertengahan, di mana pergerakan nada tidak
disandarkan pada kadens. Tetapi dalam setiap modus masing-masing memiliki
kecenderungan pergerakan yang dipengaruhi oleh nada finalis dan nada dominan.
Di dalam jazz, modus digunakan sebagai salah satu materi untuk menggembangkan
improvisasi, dimana modus-modus tersebut digunakan di atas suatu akord-akord.
Sehingga memunculkan aturan bagi penempatan modus terhadap akord. Pengaturan
ini berbentuk penetapan bahwa dalam suatu tipe akord tertentu dapat dimainkan
modus-modus tertentu. Tipe akord sendiri dibagi dalam tiga bentuk, mayor 7,
minor 7, dan dominant 7. Dimana dalam tiap tipenya dikembangkan dengan
nada-nada tambahan yang intervalnya semakin jauh. Teknik ini disebut sebagai
chord superimposition.
Dari kedua tradisi tersebut, mengakibatkan harmoni yang
dikembangkan dalam jazz menjadi begitu rumitnya (ditinjau dari kajian
musikologis). Sementara secara praktis akord-akord yang muncul akan terdengar
sangat dissonance. Jika tidak yakin buktikan saja. Cobalah memainkan akord C
mayor (yang berisi nada C, E, G), kemudian bandingkan dengan akord C mayor 13
(yang berisi nada C, E, G, B, D, F#, A). Atau ketika anda memainkan akord
dominant, umpamanya G7, gantilah akord tersebut dengan tritonenya: D(7. Jujur
secara naluriah, telinga seluruh manusia di dunia (bukan cuma ‘telinga dangdut’
kita) akan setuju kalau akord C mayor lebih mudah dicerna ketimbang C mayor 13.
Musik dalam Belenggu
“Rezim Industri Musik”
Inilah yang terjadi. Dangdut, pop/rock, dan hampir seluruh musik
yang dibesarkan oleh ‘rezim industri musik’ memiliki struktur harmoni yang
relativ lebih sederhana. Paling hanya triad mayor dan triad minor, sedikit
dominant 7, triad diminished-pun jarang. Bahkan musik rock hanya
mengeksploitasi power chord (yang hanya berisi dua nada: 1 dan 5) yang
dimainkan oleh gitar dengan sound distortion yang pecah. Tentu ungkapan ini
bukan bukan ditujukan untuk
mendiskreditkan musik-musik tersebut. Saya sama sekali tidak mengatakan bahwa
musik-musik tersebut buruk dan tidak bermutu. Tetapi kenyataan bahwa
musik-musik tersebut disusun dengan gramatik yang sangat sederhana, adalah
benar adanya. Kita semua tentu tahu, sederhana tidak identik dengan buruk dan
tidak bermutu (rupanya kajian tentang ‘mutu’ inipun membuka peluang perdebatan
pula). Kesederhanaan gramatik ini bukan tanpa alasan tentunya. Pihak label
rekaman tentu ingin produknya laris di pasaran. Segala carapun ditempuh
termasuk penyederhanaan gramatik musik, dan biasanya jurus ini cukup ampuh.
Artinya apa? Ketika suatu musik disederhanakan gramatiknya, lazimnya membuat
musik tersebut semakin mudah dicerna. Dan ini merupakan keniscayaan dari
perkembangan industri musik, kalau tidak ingin menyebutnya sebagai
pemberangusan kreativitas.
Jazz sendiri bukannya tidak dibesarkan oleh industri musik. Pada
awalnya justru jazz besar dari industri musik yang berupa entertainment
(kelahiran swing). Kita tahu benar bahwa combo-combo jazz yang ternama pada
waktu itu banyak lahir dari pub, night-club, dan semacamnya. Tetapi lama
kelamaan kondisinya menjadi sama juga. Di mana komersialisasi hampir selalu
diikuti dengan kompromi pada pasar dan relatif diikuti penurunan mutu karya.
Adalah suatu kenyataan yang menyakitkan ketika Duke Elington (1899-1974)
menyaksikan swing menjadi karya yang latah dan tidak menunjukkan perkembangan
yang signifikan. Kemudian dia berjuang untuk menunjukkan agar musiknya dapat
diterima sebagai musik hiburan sekaligus ‘musik seni’. Atau jangan lupa pada
reaksi masyarakat terhadap bebop, ketika pertama kali bebop muncul dengan
gramatik musik yang lebih luas dan rumit, sebagai jawaban musisi-musisi jazz
negro atas keprihatinan mereka terhadap swing. Dimana masyarakat tidak serta
merta menerima musik yang ‘keras’penuh dengan chromaticism dan dissonance ini.
Cobalah kita lihat ketika Charlie Parker (1920-1955) mengungkapkan bahwa dia
bosan mendengar akord-akord yang klise, kemudian lambat laun mendengar
akord-akord yang lebih luas dan rumit, kemudian sedikit demi sedikit dia dapat
memainkannya. Charlie musisi besar yang belajar musik dari Schoenberg, Webern,
Strawinsky (musisi-musisi kontemporer ‘musik tradisional Barat’), itupun tidak
dapat dengan serta merta mencerna harmoni yang lebih lebar dar rumit. Dan
kenyataannya memang tidak mudah.
Mungkin kita juga perlu mengingat ketika Miles Davis (1926-1992)
‘dipaksa’ oleh label rekamannya Columbia untuk
merubah gaya musiknya agar ‘lebih dapat diterima
masyarakat’ karena penjualan album-album Davis
mulai mengalami penurunnya (ketika itu sedang booming gaya jazz rock). Dan akhirnya Davis menyederhanakan
musiknya, seperti yang terjadi pada musik-musik jazz rock yang lain. Kemudian
albumnya laris manis bak kacang goreng yang penjualnya menggunakan dukun
penglaris. Di sini kita lihat, dalam musik jazz-pun terjadi fenomena perbedaan
gramatik, yang mengakibatkan musik yang memiliki gramatik
lebih sederhana menjadi lebih mudah diterima serta dicerna oleh siapapun, tanpa
membedakan ‘gedongan’ dan ‘Kampungan’.
Kesimpulannya adalah: dalam tahap-tahap tertentu, dalam masyarakat
dimana jazz lahirpun, tidak mudah mensosialisasikan perkembangan harmoni yang
cenderung semakin rumit ini (Memang tidak semua gaya jazz disusun atas harmoni yang rumit,
jazz-rock/fusion contohnya. Banyak komposisi fusion yang menahan satu akord
sepanjang berpuluh-puluh birama. Bandingkan dengan bebop yang dalam kondisi
tempo sangat cepat, menaruh dua akord dalam satu birama, dengan akord
dissonance pula).
Harmoni Jazz vs Harmoni
Dangdut
Penulis percaya, bahwa musik merupakan semacam bahasa dari suatu budaya.
Di mana jika musik tersebut ‘dibiasakan’ pada suatu komunitas tertentu, maka
lambat laun komunitas yang bersangkutan akan terbiasa terhadap musik tersebut.
Namun logika perbandingan harmoni jazz dengan harmoni dangdut bagi masing
masing komunitasnya, tentu tidak bisa segegabah itu. Kalau tidak percaya sekali
lagi dengarkan dan bandingkan akord C mayor dengan C mayor 13.
Apakah ‘ketidak nyamanan’ akord C mayor 13 ini hanya merupakan ‘relativitas
budaya’? Atau lebih karena nada-nada penyusun musik dan tonalitas adalah
natural dan inherent.
Kita mungkin juga perlu mempertimbangkan bahwa akord-akord yang menyusun
dangdut, dan akord-akord yang menyusun jazz, sama-sama dibangun di atas budaya
harmoni tonal. Jadi siapa bilang harmoni dangdut dan harmoni jazz adalah dua
budaya yang berbeda? Dan yakinkah kita jika ‘orang New-Oerleans’ akan asing
mendengar harmoni dangdut? Coba perdengarkan pada orang tersebut triad mayor
dan triad minor (akord-akord yang biasa digunakan dalam harmoni
dangdut). Pasti si ‘orang New-Orleans’ itu tidak akan asing dengan akord
tersebut. Dan ternyata kata kuncinya cuma satu, ‘harmoni’. Mungkin penggunaan
kata ini tidak cukup tepat.
Mengatur Strategi
Sekarang persoalannya adalah, dengan strategi apa
mensosialisasikan jazz di tanah air tercinta? Ini tentu bukan persoalan mudah
yang dapat dicetuskan oleh satu orang. Mungkin setelah mengatasi persoalan
elitis dan eksklusifisme yang melingkupinya, salah satu hal yang mesti
dipertimbangkan adalah kenyataan bahwa gramatika musik jazz memang relativ
lebih rumit dibanding musik populer lain (meskipun tidak semua gaya jazz memiliki gramatika yang rumit,
namun yang sering disebut sebagai inti musik jazz biasanya memiliki gramatika
yang rumit). Oleh karena itu proses pembelajaran apresiasi atas musik jazz
mesti dilakukan bertahap, mulai dari yang sederhana (easy listening) terus
meningkat sampai free jazz yang free tonality itu (padahal musik-musik atonal
biasanya hanya bisa diapresiasi dengan rasio bukan dengan rasa). Tidak mudah
memang. Semoga kita tidak cukup naif untuk terlampau heroik membela ‘kaum yang
lemah’ agar bisa menikmati free jazz. (*/dari
berbagai sumber/WartaJazz.com)
Gila, sumpah! Ini aksi
yang paling konyol dan ngebanyol yang pernah gue liat dikelas XII IPA. Dia teman gue yang
super-duper nyebelin, konyol dan kadang ejekannya rada-rada basi banget tapi
anak sekelas termasuk guru-guru bisa tertawa terbahak-bahak karena ulahnya.
Jadi begini ceritanya...
Pagi tadi guru fisika
kesayangan anak XII IPA telat datengnya. Muncul deh sosok ibu-ibu berjilbab,
pendek, manis dan wajahnya yang bulat. Waaaahh...!!! cukup terkenal banget,
beliau wali kelas XII IPA sewaktu masih duduk di XI IPA. Riuh sangat, hiruk
pikuk teriakan gembira anak-anak sekelas terdengar hingga 1 km dari kelas.
Hahaha... kelas gue emang kelas yang paling hancur, paling ribut, paling
songong, paling paling paling deh dalam segala hal. Bahkan saking palingnya
kita semua langganan untuk remedial saat ulangan, terus ngerjain tugas rumah
disekolah. Ini semua nunjukin bahwa kita gak sombong, ungkap Lixpen. Soalnya
untuk ngebantah statement dari guru Akuntansi yang ngecap kalau kelas gue ini
kelas tersombong.
Si Ibu langsung masuk dan
duduk. Kita semua senang, ada yang arisan, ngerumpi dan lain-lain. Karena
sejujurnya kita paling seneng banget kalau ada guru yang gak masuk.
Bebaaaaassss...!!! terutama Fisika, bagi temen-temen gue fisika itu ribet, sulit,
ya susah untuk dicerna. Tapi bagi gue, Fisika itu sama aja kayak yang lainnya,
selama gue good mood untuk belajar so far so good.
“Bu, Adit belum tuntas
nilai bahasa indonesianya waktu kelas satu kemarin, jadi gimana?” Ujar si Adit
sambil Facebookan di BlackBerrynya MC
(Mickley Chandra).
“Kamu maunya gimana?
Biasanya kalau dikuliah, gak lulus 1 sks, harus ngulang lagi.” Jelas si Ibu.
Anak-anak satu kelas pada tertawa dengernya. Mungkin gak si Adit untuk masuk
kelas satu, belajar ngejar nilai. Gimana ni? Bisa dibayangkan kalau cewek-cewek
adek kelasnya habis digoda terang-terangan. Dengan penuh pertimbangan, timbang
kanan, timbang kiri akhirnya setelah seimbang keputusan hakim dikeluarkan.
Jreng jreng jreng...!!!
Adit disuruh nyanyi sambil
joget. Lagunya Ayu Ting-Ting dengan judul “Undangan Palsu”. Nah lho! Gimana?
Perasaan judul itu belum diedarkan dipasaran, tadinya kan Ayu dapet undangan
palsu makanya alamat yang cari jadi alamat palsu. Hehehe...
“Salah bu! Undangan Palsu
belum diedar, masih dalam produksi.” Ibunya bingung, celingak-celinguk lalu
terdiam, eh malah tertawa.
“Iya ya, hehehe...
maklumlah nak!”
“Ayo... Adit, Adit,
Adit... semangaaaaaatt!” anak seisi kelas pada ngedukung adit untuk ngikuti
lomba nyanyi supaya berhasil...
Si Adit sendiriberjalan ngelangkah maju, trus mundur. Ke
kiri ke kanan. Lalu merunduk.
“Stttttt... Diam.” Tersentak
semuanya terdiam.
“Kenapa Dit?” tanya salah
satunya.
“Jangan bilang sama
siapa-siapa, aku gak hapal lagunya.” Gedubrak... padahal anak-anak udah pada
serius dengerinnya, jadi malah ketawa gara-gara Adit. Dia disuruh cepetan
karena waktu tinggal 10 menit lagi.
Sekarang sudah 3 menit
berlalu hanya untuk menghapal teks yang nggak kunjung hapal. Super Duper gila
deh. Nah, ada sang biduan kelas, namanya Lola. Mulai ngedangdut deh dia telah Mp3nya
Ayu Ting-Tong di puter sama Yasser. Semua pada senam jempol.
Dengan gaya sok premannya,
Adit maju kedepan mulai nyanyi. Ampun dah! Dijamin yang ngeliat goyangannya
pasti langsung melek karena ngantuk udah hilang. Gue dan yang lain aja gak
berhenti untuk terbahak-bahak. Modal suara pas-pasan, tampang selenge’an,
goyangannya kayak goyangan bapak-bapak tahun 80an. Goyangan pinggulnya nggak
nahanbanget dan ditambah sedikit
goyangan Uut Permatasari yang kaku banget di tubuh Adit.
Sayangnya, Gue nggak ada
fotonya waktu lagi asyik joget. Nggak sempet karena gue kira MC udah ngeshoot. Eh
malah, video mentah yang dikasih ke gue. Kasihan juga sih si Adit, tetap aja
nggak lulus dimata pelajarannya. Kira-kira bakal ngulang nyanyi atau belajar
bareng sama anak kelas X SMA ya?