Sambutan

Welcome in my blog. Thanks for come in and have fun for read.

Semoga blog ini bisa bermanfaat untuk yang baca...

Selasa, 10 Januari 2012

Konsep Cinta



Aprilia Annisa
“Kamu hanya siswa baru di sini! Jangan berlaku seenaknya, sok pintar!” Bentak Ricky kepadaku, hanya karena perdebatan kami berdua saat diskusi biologi, tadi pagi. Keadaan seperti itu selalu terulang di hari-hari berikutnya. Panggil saja aku, Anne. Aku siswa pindahan dari Jakarta. Mereka menyambut kedatanganku dengan tangan terbuka, tetapi tidak untuk Ricky.
            Hari semakin cerah dengan mentari yang begitu bersemangat, tetapi raut wajah Ricky tak ubahnya seperti kemarin. Ia terlihat masih sangat membenciku. Menurut sahabatnya, sikap lelaki itu berubah seakan memberontak semenjak, Lia, kekasih yang ia cintai terbang bersama asa dan indahnya kenangan yang kemudian meninggalkan mereka dan Ricky, setahun lalu. Lia mengidap Leukimia stadium lanjut. Leukimia merupakan penyakit yang dikenal dengan adanya proliferasi dari sel-sel organ homopoietik, yang terjadi sebagai akibat mutasi somatik sel bakal (stem cell) yang akan membentuk suatu klon sel leukimia atau penyakit kanker darah. Sungguh tragis cerita cinta yang memilukan itu dan membuat air mataku terjatuh dikedua pipi yang cekung lalu menyentuh bumi.
            “Lalu, mengapa ia membenciku? Apa salahku dan adakah kaitannya dengan almarhum Lia?” Pertanyaan ini terus memutar di otakku seiring dengan pertengkaran kami yang semakin hari semakin hebat.
            Di balik awan yang sedang bersedih dan menutup keceriaannya, aku duduk bersantai di bangku taman sekolah, tepat di bawah pohon. Saat itu, sebuah lembaran photo terbang kepangkuanku hingga memecahkan keheningan konsentrasiku saat membaca. Gadis yang berada disana sangat cantik. Bergemeretak tubuhku seketika, tak bergumam dan tak berdaya, ketika menyadari bak bayangan diriku yang berpose indah dilembaran yang menghampiriku itu. Dengan rambut pirangnya yang panjang terurai dan kulit putih yang bersih, wajah ovale bahkan mata birunyapun seperti mataku. Ku ambil lalu ku simpan rapi lukisan kecil itu di belahan buku Fisika Modern yang kubaca. Tak sedikitpun keberanianku tersirat untuk bertanya kepada teman ataupun penjaga sekolah mengenai gadis di photo tersebut. Hanya saja aku tersadar setelah tanpa sengaja beberapa orang guru memanggilku dengan sebutan “Lia”. Apakah gadis yang parasnya menyerupaiku adalah sosok Lia?
Kumandang azan yang memanggil umatnya, telah membangunkanku dari lelapnya tidur diantara keletihan perjalanan panjang di dunia mimpi yang kujelajahi semalam. Sebenarnya, aku sangat bermalas untuk pergi kesekolah hari ini, tetapi rangkaian listrik yang akan diujikan saat perlombaan besok, harus aku dan Ricky serahkan kepada guru pembimbing pukul 14.00 wib,  membuatku tersentak dari lamunan panjang di meja makan.
            Alat dan bahan telah tersedia lengkap di atas meja di laboratorium. Tetapi aku tak diperbolehkan sedikitpun merangkainya. Ricky menganggap bahwa ia bisa melakukannya dengan sempurna. Aku hanya menurutinya, menganggukkan kepala dan mengerjakan apa yang diperintahkannya. Aku mulai merasa bosan. Kugerakkan bibir yang kemudian beradu, memadukan suara dari kata yang kurangkai perlahan menjadi sajak indah.
            “Dibalik semayam kalbu, ia menyeruakkan rasa rindu. Memercik pijar di antara untaian syahdu. Aku adalah akumu. Menatap kemerlap bintang dan rembulan malam seindah kelopakmu, terbayang dipelupuk anganku seelok senyum manismu. Disini kuceritakan bila rasa ini untukmu dan aku rindu.”
            “Jatuh cinta ya? Atau rindu dengan kekasih?” tanya Ricky yang begitu ketus tetapi tatapan matanya seakan melemah ketika mendengar sajak yang kulantunkan. Aku melihat ia melemah luluh lantak tanpa kebenciannya lagi padaku.
            “Tidak. Aku hanyalah seorang yang mengibaratkan sebuah rasa menjadi kata dari permainan diksi, yang akan kurangkai sesempurna mungkin. Menurutmu takdir manusia itu seperti apa?”
            “Di dalam ilmu fisika modern yang membahas sekilas mengenai teori atom, bagiku takdir layaknya perputaran elektron yang selalu setia mengitari proton dan inti atom, keadaan itu akan tetap kekal sepanjang kehidupan.” Jawab Ricky dengan memutarbalikkan tubuhnya lalu tertunduk sembari menyeka tetes air matanya pada pipi yang tak kuasa menahan kesedihan.
            Hari-hari terus berganti, usia bumipun bertambah tua dan jalinan hubungan pertemananku dengannya semakin membaik. Aku kembali mengulang mengutarakan kepedihan hatinya dengan mengibaratkan aku berada di posisinya. Lembaran-lembaran kertas yang berserakan di meja, ku rapikan, ku jadikan satu dalam sebuah map biru. Aku mulai tertarik dengannya, bukan lelaki yang angkuh seperti kukenal saat pertama bertemu, tetapi lelaki yang berada dalam kelembutan, kasih sayang dan tuturnya yang santun.
            Aku dan ia sangat menyukai fisika, seperti kecintaannya dan gadis masa lalu itu dengan ilmu fisika. Surat undangan dari sebuah universitas ternama di kota ini telah sampai ke genggamanku. Lagi-lagi, saat ini aku dan Ricky didudukkan dalam satu tim di Lomba Cepat Tepat Ilmu Fisika yang menjadi perwakilan sekolahku.
            “Detik demi detikpun akan kita lalui bersama. Terima kasih atas senyummu, Anne! Suatu saat nanti aku akan berusaha mengikutimu untuk terbang bersama dan terlarut dalam sajak-sajak indah yang akan aku dan kamu ciptakan,” tuturnya kepadaku dengan genggaman tangannya yang erat menggenggam tanganku dan senyumannya yang pertama kali ku lihat.
            Ternyata memang benar, usaha yang dilakukan dengan ikhlas akan meraih hasil yang memuaskan. Tim sekolahku, mendapat juara 1 pada lomba fisika tersebut. Kerja keras, kebersamaan dan doalah yang meluruskan dan membuka jalan kami untuk meraihnya. Tak kusangka, kegembiraan yang kudapat tidak hanya sekedar memenangkan perlombaan, tetapi kemenangan hatiku.
“Heningnya malam kian menepi, hadirkan syahdu pesona mengharu. Rasa ini kian merona dibalik dingin sunyi kumerindu. Temani dalam sepi malamku. Nirwana yang kau sandingkan. Inginku bersamamu dengan denyut rasa kebersamaan, bahwa jiwaku kini terbelenggu olehmu,” sebuah puisi yang terselip di buku Konsep Fisikaku. Hatiku berdebar kencang ketika membaca kata per kata. Ricky telah membuatku percaya kembali akan cinta, yang sebelumnya bagiku, cinta sangat menyakitkan.

“Aku terbuat dari cairan lilin yang gampang meleleh bila tersudut api. Entah berapa ribu malam telah kutinggalkan demi setimbun impian. Aku lupa cara membelai rupa. Aku tak ingat rasanya disentuh oleh belai rasa. Dan kini, berkali, terlalu berkali. Seiring suara nuraniku terpasung dengan letih yang mengkristal. Kau nyata dalam mayaku, ada disisi lelahku yang bergemeretak. Kau benar ada di hadapanku saat bersujud pada sang Gusti. Aku rindu padamu. Tak sebentar kutanam keping demi keping rasa dan asa. Jangan terbang lagi! Temani ragaku hingga hembusan nafas menipis.” Pernyataannya membuat hatiku luluh. Merasakan cinta saat kedekatan ada di mukaku. Aku tak dapat mengucapkan sepatah katapun, melainkan hanya tersenyum manis menatap matanya.

Cinta itu memikili sifat kemagnetan. Mempunyai dua kutub yang berbeda sifatnya, tetapi jika kedua kutub berbeda itu disatukan maka ia akan menyatu. Cinta juga bak Hukum Newton III yang menyatakan bahwa gaya aksi sama dengan gaya reaksi, yang berarti mencintai sama dengan dicintai.  

Note : ini cerpen gue buat dalam waktu 2 jam karena ngejar deadline nya... trus gue kirim untuk lomba. mudah"an ya... kalau ada yang kurang, minta sarannya donk...