Sambutan

Welcome in my blog. Thanks for come in and have fun for read.

Semoga blog ini bisa bermanfaat untuk yang baca...

Rabu, 07 Desember 2011

Kesadaran Dibalik yang Tertidur Lelap

Kesadaran Dibalik yang Tertidur Lelap

Aprilia Annisa



Semakin hari semakin mencemaskan. Mereka adalah para pelajar yang mengejar nilai untuk mendapatkan ketuntasan tanpa memahami apa yang diketahui. Terlihat sudah beberapa anak yang bolak-balik hilir-mudik memasuki ruang guru untuk mengisi nilai mereka yang kosong ataupun belum mencapai Standar Kelulusan Belajar Mengajar (SKBM). Selagi teman-teman yang asyik mengurus semua hal itu, hanya seorang siswi yang terlihat santai tak berbeban duduk dibawah pohon cemara taman sekolah. Ranny, biasa orang memanggil lembut namanya. Gadis bertubuh tinggi semampai, rambut panjang terurai dan paras yang elok dipandang dengan kacamata khas yang tidak pernah terlepas dari mata indahnya. Menurut pandangan disekitar, Ranny merupakan siswi yang acuh tetapi ramah dan sangat tidak mau peduli dengan segala macam hal yang tidak mendukung didalam area masa depannya.

Disisi lain sebagai pelajar, Ia juga merupakan penulis. Di dalam hobby itulah mulai dari hal kecil yang membahagiakan hingga yang sangat tak berkenan di hati Ia curahkan. Aku cukup takluk dengan kekaguman yang ditebarkannya di hadapanku. Ia tak pernah mendapatkan prestasi di kelas, tapi Ia termasuk siswi yang sangat berprestasi. “Aku tidak akan dan tidak ingin mengubah dunia karena aku hanya ingin mengubah keterpurukan Indonesia dari segala permainan di gelapnya mata menjadi cahaya yang akan menunjukkan keagungan sinar-binar yang terpancar ” Kutipan di cerpennya yang kubaca menandakan ketidakselarasan pola pikir seorang pelajar dengan pemikiran pemerintah mengenai sistem pendidikan di Indonesia. Sayangnya, Ia bukanlah seorang penulis yang memaparkan curahan itu kedalam bentuk media, melainkan hanya disimpan rapi untuk menjadi tumpuan keras bagi perjalanan masa depannya.

Hari ini tak ubahnya seperti hari kemarin, tak menjadi lebih buruk ataupun lebih baik. Hanya orang yang menyia-nyiakan kesempatanlah yang akan mengatakan “Aku telah ditelan waktu”. Ia bukanlah gadis yang tidak mau berbuat untuk menjadi sosok yang lebih baik, akan tetapi cara pandang personal yang membuat Ia tidak akan mengikuti jejak teman-teman di sekolahnya.

“Aku tahu bahwa kegiatan itu bukan hanya terjadi disini, tetapi disetiap pelosok Negeri Indonesia. Aku tidak akan mencari sebuah nilai yang tidak berdiri kekal, tetapi aku hanya akan mencari ilmu pengetahuan yang mampu menghidupiku selamanya,” Ujarnya kepada salah seorang guru Sastra Indonesia disana. Ia tidak pernah setuju dengan keharusan siswa untuk mencatat pelajaran saat diberi catatan sebelum mereka memahaminya, tindakan siswa-siswi yang meminta kisi-kisi seminggu sesaat sebelum ujian semester diadakan, memasukkan sebagian pengajaran IPS kedalam Program IPA ataupun sebaliknya dan lain-lain. Hal yang bersangkutan tersebut sangat dianggapnya tidak penting dan hanya akan menciptakan pribadi yang tidak mandiri di dalam diri seorang siswa bahkan tanpa mereka sadari, kegiatan seperti itu hanya akan membuat diri pelajar menjadi terpuruk dan menghancurkan harapan di kehidupan mendatang yang hanya akan bisa terus bermimpi tanpa dapat meraihnya.

Keletihan yang teramat sangat membuatku ingin bersantai sejenak di kantin bersama teman-teman sekelas untuk melepas penat seusai melaksanakan ujian semester yang telah berakhir pada hari ini. Entah mengapa mereka memusingkan pikiran dengan beberapa remedial yang harus dikerjakan. Sedangkan, gadis berkacamata itu tak meresahkan layak sahabatnya.

Dibalik rintik hujan yang deras, aku melihat ia berlari terburu-buru dikoridor memasuki ruang kepala sekolah. Apapun yang ia lakukan pasti hal itu sangat bermanfaat bagi dirinya. Aku sedikit memutar  otak untuk mengingat kembali beberapa kisah yang kualami dari hari ke hari. Aku menyatakan pro pada pendapat-pendapat yang di utarakan oleh gadis itu. Terakhir, di perpustakaan, aku berdiskusi kecil bersama Ranny, Pak Andi, Pak Roni, dan Ilyas mengenai sikap pelajar terhadap pendidikan yang mereka terima. Kebanyakan para pelajar mengatakan “Bosan” belajar. Sebagian dari mereka juga tidak dapat memfokuskan diri dengan apa yang sebenarnya menjadi cita-cita yang akan mereka wujudkan. Bahkan perbincangan inipun berimbas kepada sistem pendidikan yang seperti inilah yang memperbanyak pengangguran dan penurunan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM).

Jika dikaitkan, satu persatu dari permasalahan yang ada merupakan “Penyebab yang disebabkan”. Setiap orang mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tetapi aku merasa, di Indonesia pengembangan suatu bakat atau kelebihan sangatlah minim. Pemerintah Indonesia meminta agar para generasi muda berpikir kritis dalam segala macam hal karena mereka merupakan generasi penerus bangsa. Sedangkan banyak kita saksikan diberbagai media, pemikiran para remaja tidak ditanggapi serius. Kerap kali mengganggap bahwa generasi muda seperti anak kecil yang merengek meminta uang jajan kepada orang tuanya.

Sesuatu yang sangat tidak perlu untuk dipermasalahkan ternyata itu bisa disebut dengan masalah yang teramat besar bagi negeri ini. Mengapa pelajar bosan untuk belajar? Pemaparan permasalahan itu yang dibahas bersama Pak Andi, Kepala Sekolah ku. Sebenarnya tidak ada kata bosan yang menghampiri para belajar, hanya saja tak ada inovasi baru yang bisa membuat para pelajar merasa tertarik untuk belajar. Tidak sedikit yang mengeluhkan, terlalu banyak hal yang harus dipikirkan dalam belajar, tuntutan pemenuhan nilai, pemahaman disetiap materi, ulangan dadakan dan apapun segala bentuknya. Kebijakan itu menjadikan mereka tidak dapat memahami dan mengerti penuh terhadap apa yang mereka pelajari. Bisa kita lihat di luar negeri, pendidikan mereka sejak kecil  adalah pendidikan yang memfokuskan diri sesuai dengan bakat dan minat sehingga tidak ada lagi gangguan dalam belajar. Mereka juga dapat mengaplikasikan ilmu yang di peroleh, kegiatan seperti itu yang sebenarnya mendukung proses belajar-mengajar menjadi lebih baik. Jadi yang dituntut bukanlah sebuah nilai, tetapi seberapa besar mereka mengerti dengan ilmu yang sedang dijelajahinya.

“Jika hal itu terlaksana di tanah air ini, bisa kita bayangkan, berapa banyak SDM yang kualitasnya meningkat. Mereka para pelajar, dapat memahami sejak kecil betapa pentingnya belajar dan mereka bisa menanamkan suatu hal yang memang benar-benar mendukung untuk cita-cita yang sangat penting untuk diwujudkan. Hal itu tak lepas juga dari bantuan lingkungan sekitarnya dan lingkungan sekolah terhadap siswa-siswi berprestasi dan proses peningkatan belajar yang juga memberikan kesempatan terhadap semua pelajar secara merata. Lalu, dalam kasus seperti ini timbul lagi sebuah permasalahan, bagaimana cara membuat semua hal ini terlaksana sedangkan diluar sana orang-orang hanya mementingkan apa yang dapat menjayakan diri mereka sendiri?” Jelas Ranny.

Menurut penegasan Pak Andi, hal yang serupa telah menjadi sarapan pagi oleh beberapa kepala sekolah yang ada di kota ini. Sangat tidak mungkin untuk mengubah suatu tatanan secara luas dan di Indonesia, pendidikan juga salah satu proyek untuk dipolitikkan. Maka dari itu, yang bisa dilakukan hanyalah cara kita untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas sekolah, baik sekolah pemerintah ataupun yayasan.

“serta yang wajib ditingkatkan yaitu mendidik dan membuka pola pikir remaja khususnya para pelajar untuk dapat lebih mengaplikasikan langsung apa yang terekam dikepala mereka selama mendapat pengetahuan disekolah. Setidaknya sekolah kita bisa menunjukkan dan menjadi penutan sekolah lain untuk juga menerapkan hal yang serupa.”

“Benar, Yas! Kita ciptakan didalam diri sendiri, lalu kita bagikan kepada sesama. Kamu, Ranny dan Eka dapat membuat sebuah panitia dan membentuk program kerja sosialisasi untuk mengisi kegiatan “Class Meeting” yang tentunya bertema dengan apa yang kita bicarakan saat ini,” Tambah Pak Roni yang menyemangati dan mempercayai aku dan teman-teman.

Seusainya, kami menyiapkan hal-hal yang diperlukan untuk merancang program sosialisasi tersebut. Harapan akan tetap menjadi harapan. Yang tersirat di dalam benakku hanyalah, suatu saat nanti aku akan mewujudkan harapan yang belum tersampaikan untuk diriku dan seisi tanah air ini. Aku, Ranny dan Ilyas, pelajar remaja yang sangat peduli untuk jalan hidup mendatang tetapi perlahan akan berusaha menjadikan remaja-remaja Indonesia untuk terus memperjuangkan apa yang seharusnya mereka dapatkan. Langkah ini adalah awal dari perjalanan kami. Harapan yang paling besar agar suara ini tidak di acuhkan oleh mereka yang berkuasa, oleh mereka yang memimpin dan oleh mereka yang mengatur. Turut serta tangan dan kesadaran mereka juga sangat berarti untuk menjadikan hal kecil ini menjadi sangat bermakna untuk keseluruhannya.



Jambi, 07 Desember 2011

( Dipersembahkan untuk para pelajar, khususnya siswa-siswi 

Camp. Unggul Sakti dan bagi mereka yang tertidur lelap didalam kesadaran)

Jumat, 25 November 2011

Campur Aduk


Hai Blogger...

                gue hari ini dari pagi sampai malem rasanya mumet banget. Mulai dari pagi tadi. Pertama, gue bangun kesiangan gara-gara malemnya tidur terlalu larut sampe jam 2 karena ada kerjaan yang harus gue kerjain. Waktu pas nyampe sekolah, gue dan teman-teman, seluruh anak kelas 3 SMA dan SMK ngumpul di lapangan basket untuk ngedengerin sosialisasi dari University. Sedangkan anak kelas satu pada jalan santai sama guru pembimbing. Untuk kesekian kalinya, yang dateng untuk sosialisasi adalah universitas dengan fakultas IT atau Akuntansi Management, gak pernah ada yang fakultas umumnya yang masuk.

                Waktu pelajaran bahasa indonesia, gue permisi dari kelas. Gue nyusul  Yasser yang lagi di lab komputer sekolah. Menjelang jam pelajaran terakhir, bad mood gue keluar. Selama pelajaran matematika bawaan gue emosi terus. Tapi, gak gue campur adukkan masalah yang ada dikepala gue dengan pelajaran sekolah. Rasanya saat itu, pengen banget netesin air mata, tapi sayangnya gue udah lupa caranya nangis itu gimana. Kelamaan gak nangis sih. Hehehe...

                Pas pulang sekolah, gue jalan kekantor SMK. Rencananya mau nemuin guru BK, gue pengen sharing biar semua penat ini lepas. Tapi, dia gak ada dikantor. Gak jauh dari kantor, gue ngeliat cowok pake jacket merah jalan ke parkiran. Dia itu spesial someone bagi gue. Gue ngejar dia deh, karena saat itu memang lagi butuh temen banget. Kita ngobrol dikit waktu di parkiran. Sebenernya sudah seminggu gue dan dia lost contact, bukan karena ada konflik, tapi gue dan dia sama-sama sibuk. Walaupun ketemu disekolah, palingan hanya say “HI” atau senyum.

                “Kenapa sayang?”tanya dia yang heran karena tampang gue saat itu kusut banget. Terus dia minta maaf sama gue karena hp nya sering gak aktif. Hp nya memang sering nge-hank sih, tapi gue gak permasalahin itu.

                “Just need a friend for sharing. Tadi nyari ibu, tapi gak ada. Udah mau pulang ya?” gue berdiri di samping motornya dan dengan gaya biasa, ngacak-ngacak rambut. Dia malah senyum, terus nanyain udah pulang atau mau les. Gue bilang ada les. So gak jadi dia  nganterin gue  pulang. Karena hari ini jumat, gue suruh aja dia pulang, biar bisa siap-siap untuk jumatan. Kayak biasa, dia ngingetin supaya jangan lupa makan, jangan terlalu capek, kalau sudah pulang jangan kemana-mana dan hati-hati pas pulang.

                Gue balik deh kegedung belakang, pikiran gue sedikt tenang setelah ketemu dia. Gue ketemu lagi sama Roma yang lagi ngedeplak di koridor gara-gara mikirin bahas inggris. Setelah ngebantuin dia ngambil nilai, dia minta tolong diajarin matematika. Gue iyain deh itu. Kita belajar pindah-pindah, dari ngedeplak dikoridor, terus di lapangan basket, lapangan badminton lalu stop ngeleseh di depan labor IPA. 

                Lagi asyik gue ngejelasin tentang rumus dan konsep sama Roma, tiba-tiba dia malah nanya, kok lu belum pulang? Ya gue bilang, nanti kan kita les. Wah, ternyata gue ketinggalan kabar waktu sengaja kabur menghindar pelajaran bahasa indonesia. Les nya gak jadi karena gurunya gak enak badan. Pantes aja semua temen gue pulang. Beruntungnya gue ketemu Roma, kalau gak, gue nunggu sia-sia sampe jam 4 sore. Tapi tadi gak jadi hal yang sia-sia, karena gue ngebagi ilmu sama temen. 

                Tapi tetep aja gue ngomel dikit sambil ketawa, coba kalau gue tadi tau kalau gak les. Gue udah pulang dianter sama Doi dan nyampe rumah terus istirahat. Tapi, semua berkata lain. Sesudah gue pulang, gue gak makan siang lagi, malah langsung tidur. Gue hampir lupa, kalau Kak Nana mau kerumah. Jam setengah 7 malem gue baru bangun. Gue siap-siap. Rasa syukur yang banget dan banget karena malem ini Kak Nana kerumah, gue bisa diskusi kecil, sharing dan sedikit curhat. Gue ceritain deh apa yang gue rasa hari ini sampai cerita tentang sahabat dekat gue.

                Kak Nana baru tahu kalau gue pernah deket sama temannya. Sempet juga si Kakak cerita kalau temennya itu heboh banget waktu tahu kalau Kak Nana kenal sama gue. Gue ceritain sama dia apa yang terjadi antara gue dan temennya itu. Eh, dia malah ketawa. Katanya, cerita gue gokil dan seru. Yang jelas malem ini, penat gue udah lepas. Udah lega. Dan hal yang paling buat gue tersenyum, temen kak nana masih inget sama gue setelah berapa lama gak ketemu dan punya sebuah masalah. Gue juga masih inget sama dia, tapi hati kecil gue gak mau nginget dia, karena menyakitkan.



26 November 2011
00:40 Wib

Selasa, 22 November 2011

Jangan takut berbagi Ilmu Pengetahuan

Hari ini, 22 November 2011, tercatat sebagai hari yang melelahkan, karena tepatnya enam hari lagi ujian semester bakalan dimulai. Dalam minggu inipun banyak banget materi disetiap mata pelajaran yang belum tertuntaskan. Maka dari itu, gue hampir aja menyebut minggu ini sebagai neraka bagi diri gue sendiri. Tetapi setiap keletihan yang terjadi rasanya terbayarkan dengan pengetahuan yang gue dapat semenjak awal kelas 3 SMA.

Tadi siang sepulang sekolah anak didik gue nanyain kapan latihan lagi. Latihan apa? Gue diminta oleh guru fisika untuk ngebimbing dia belajar karena tahun depan dia bakal mengikuti Olimpiade Fisika di kota gue. Banyak teman-teman yang nanya, sekali ngajar gue dibayar berapa? Gue jawab nggak ada. Tawaran ini gue terima karena Bu Arlina juga percaya dengan kemampuan gue dalam bidang fisika. Padahal gue nggak pintar, masuk 5 besar aja belum pernah selama SMA. Kebetulan juga, gue nggak pernah banget yang namanya belajar dirumah. Kalau pulang sekolah gue langsung tidur, malemnya gue nonton. Jadi nggak pernah sama sekali nyentuh buku.

Mungkin untuk sebagian orang, nggak akan mau melakukan hal yang gue kerjain ini. Siapapun orang itu mereka pasti mengharapkan sebuah imbalan yang sesuai dengan apa yang sudah mereka lakukan. Tapi di dalam hati kecil gue, imbalan itu sudah gue terima dengan sendirinya.

Sebelum ini gue pernah diminta untuk mengajar les privat, grup dan gue juga pernah menggantikan guru ngajar di sekolah. Rasanya pekerjaan yang gue kerjakan itu hanya sekedar membalikkan telapak tangan. Prinsip yang selalu gue terapkan hingga saat ini adalah gue senang kalau harus berbagi dengan orang yang membutuhkan. Begitu juga dengan pengetahuan, semakin banyak gue membaginya maka pengetahuan gue bakal semakin bertambah. Hal yang selalu ada dipikiran seorang pelajar masa kini adalah pengetahuannya hanya untuk dirinya.

Sama sekali gue belum pernah mendengar kalau teman sebaya gue ada yang memasuki dunia sebagai seorang guru. Mereka takut jika orang yang mereka ajarkan nanti akan lebih unggul dari mereka. Sebenarnya itu hanyalah kekeliruan sebuah prinsip. Sampai kapanpun ilmu gak akan pernah ada habisnya. Setiap kali kita mengaplikasikan pengetahuan yang kita dapatkan, pengetahuan itu semakin dekat dengan diri kita. Karena kita selalu mengingatnya. Begitu juga sebaliknya, jika kita menjauhkan bahkan melupakan, pengetahuan juga akan melupakan kita.

So, bagi kalian semua, jangan takut jika harus membagi ilmu pengetahuan. Manusia yang pintar adalah manusia yang hanya memperkaya dirinya sendiri dengan ilmu pengetahuan tanpa mengaplikasikannya karena mereka enggan tersaingi. Tetapi manusia yang pintar dan cerdas adalah manusia yang memperkaya dirinya dengan ilmu pengetahuan dan dapat mengaplikasikannya serta membagi pengetahuan itu kepada sesama.

·         Tetap semangat untuk menggapai masa depan yang sempurna

Oleh : Aprilia Annisa

Jumat, 18 November 2011

Mimpi Cinta


Oleh : Aprilia Annisa

Ketika keinginan terjalin
Seperti bintang dengan cahaya terang
Untuk menyinari hati yang sepi

Seperti mimpi yang temani lelap dirimu
Ditidur panjang dalam angin malam
Yang berikan damai disetiap detik tetes waktu

Layaknya hujan yang menyelimuti kegelisahan hati
Disetiap badai kehancuran menderu
Dan aku ingin menjadi pelangi
Yang tiap garis warna indahnya mewarnai cerita hidup cintamu

Oh, sempurnanya bila segala angan tercipta
Diantara kesederhanaan dengan harapan
Walau rasa tak seperti melati yang menebarkan pesona keharumannya
Dan sadarkan setiap langkah saat ku terbang tinggi menggapai mimpi.

Hujan Pagi, Agustus 2011

Bukan Perpisahan


Oleh: Aprilia Annisa

Senyuman tetap menjadi senyuman
Kehilangan ini bukan seperti mati dalam peti
Tapi aku akan kembali dengan segudang prestasi yang tak pernah kau ketahui
Aku akan menjadi siapa aku seperti pada sajakmu yang lalu kemudian terbang bersama sajak-sajak manis  yang tersimpan rapi di memory perjalanan panjang kisah kita menggapai mimpi

Kau takkan pernah kehilanganku!
karena sajak kita seperti angin yang selalu menemani diri sebagai penyejuk jiwa yang sepi

Ini bukan perpisahan, Sayang!
Semua akan kembali menjadi lebih baik,
kau tetaplah sahabat yang tak pernah terganti

Langit Cerah, Agustus 2011

Dera Jeritan Luka


Oleh : Aprilia Annisa


Bukan!
Satu kata itu menghilang
Merasuki jiwa yang terluka
Terbang beriringan abu dan debu

Bukan!
Kisah ini hanya kiasan
Lukisan maya tentang cinta
Semu bagai sunyi dalam senyap
Menghampiri lalu lenyap
Singgah sejenak di pelangi sepi
Menghias warna disetiap celahnya

Bukan!
Dia bukan milikku
Dia bukan kekasihku

Taman Sepi, 18 November 2011