Oleh: Doni
Riwayanto – email doni_riwayanto@yahoo.co.id
Suatu anggapan bahwa jazz memiliki sofistikasi tinggi sehingga
memerlukan kapasitas intelegensia yang lebih dari pada memahami musik non jazz,
boleh jadi merupakan sebuah klaim yang sewenang-wenang. Namun fenomena lebih
diterimanya harmoni dangdut daripada harmoni jazz, bukan semata-mata suatu
kebiasaan telinga seseorang menerima harmoni tersebut. Bahkan kita mesti
bertanya lagi ‘Harmoni jazz yang mana? Ragtime, swing, bebop, free jazz, fusion
atau yang lain?’ Pemahaman tentang hal ini akan semakin membuka mata, dengan
strategi apa mensosialisasikan jazz di tanah air tercinta? Karena untuk jadi
pemenang, kita mesti memandang dunia (dalam hal ini musik jazz) lebih lengkap
lagi. Historis, ideologis, dan gramatik musik jazz sendiri. Pendekatan
historis-pun jangan hanya terpaku ‘dari mana’ dan ‘kenapa dia lahir’, tetapi
juga ‘bagaimana dia dibesarkan’. Masalah gramatik musik, penulis disini akan
fokus memperlihatkan aspek-aspek yang Mempengaruhi kenapa harmoni jazz susah
diterima ‘telinga dangdut’ (maksudnya telinga kita semua yang hidup di negeri
dangdut).
Tonalitas dan Modalitas Sebagai Dasar Pembentukan Harmoni Jazz
Pertama kali adalah menyepakatai soal definisi harmoni. Secara
umum harmoni sering disebut dengan kata lain: keselarasan, keserasian,
kesesuaian, dan semacamnya. Di dalam kajian musikologis sering diartikan
sebagai keselarasan antar nada. Lebih khusus lagi keselarasan antar pitch. Baik
yang berbunyi secara vertikal (yang kemudian menjadi akord), ataupun yang
berbunyi secara horisontal (yang kemudian menjadi melodi).
Musik jazz konvensional (mainstream jazz) dibangun di atas harmoni
tonal, yang dikombinasikan dengan harmoni modal. Kenyataan ini mengingatkan
kita akan sebuah realitas bahwa jazz dibangun dari perpaduan dua budaya yang
berbeda di Amerika, kulit hitam – kulit putih. Yang berbanding lurus dengan
tradisi harmoni tonal – tradisi harmoni modal. Tradisi improvisasi – tradisi
komposisi. Fenomena ini di gambarkan secara gamblang oleh kemunculan big-band
di era dan gaya
swing, suatu jenis musik yang pertama kali dapat diterima oleh kedua ras yang
berbeda di Amerika. Gaya-gaya sebelum itu seperti ragtime, new-oerleans,
dixieland, dan kansasn-style, hanya berlaku di kalangan kulit hitam saja.
Namun free jazz, dibangun dengan pembaruan yang sangat mendasar,
yaitu pembebasan atas nilai-nilai tonal (free tonality) atau meminjam istilah
Arnold Schoenberg ‘atonal’. Karena free jazz memang sering dibandingkan dengan
perkembangan ‘musik seni’ yang merupakan perpanjangan dari perkembangan sejarah
‘musik tradisional Barat’ (renaesance, barok, klasik, romantik, modern,
postmodern). Oleh karena itu, segampang itukah ‘telinga dangdut’ menerima
harmonisasi free jazz yang mengadopsi estetika atonal? Karena nada-nada
penyusun musik dan tonalitas adalah natural dan inherent. Ini dibuktikan oleh
hadirnya fenomena akustik dengan overtoneseries yang dicetuskan oleh Phytagoras.
Sedikit melenceng dari tema, sebenarnya saya cukup keberatan
dengan klaim bahwa free jazz merupakan tonggak perkembangan jazz postmodern,
mengingat free tonality sebagai karakter utamanya. Bitonal, polytonal, atonal,
free-tonal, dan semacamnya merupakan buah dari rasionalisasi atas tonal,
kemudian membawanya terjebak lebih jauh dalam hitungan yang terlampau matematis
(meski begitu tidak semua musik yang malakukan distorsi terhadap tonal otomatis
menjadi terlampau matematis, hanya sebagian saja!).
Bukankah pendewaan atas
rasio merupakan fenomena modernisme? Yang kemudian digugat oleh postmo.
Sementara twelve-tone, tone-row, dodecaphonic, atau serial music, sebagai
bentuk utama musik atonal – free tonal merupakan fenomena paling ekstrem dari
intelektualisme musik (barat) modern. Bagaimana mungkin free jazz yang
mengambil estetika musik modern dapat dikatakan sebagai tonggak postmo? Ironis
memang, karena salah satu proyek postmodern didalam musik adalah dekonstruksi
atas intelektualisme (yang kebablasan) dalam musik modern.
Mungkin kita jangan dahulu terlalu jauh melihat harmonisai free
jazz yang free tonal itu. Pertama kita akan memahami harmoni jazz konvensional.
Salah satu aspek pendukung harmoni jazz diambil dari sistem tonal. Tonalitas
sendiri dapat diartikan sebagai suatu sistem tatanan nada-nada sesuai dengan
hubungan hirarki antar pitch terhadap pusat nada yang disebut tonik. Tonik
sendiri berawal dari nada terrendah dari suatu tangga nada, yang kemudian
dikembangkan menjadi akord.
Tonik berfungsi sebagai ‘pusat grafitasi’ bagi nada
maupun akord lain di sekitarnya. Pergerakan nada maupun akord yang membentuk
suatu frase dimotori oleh tegangan dan daya tarik menarik antara sifat
conconant dan dissonant dari akord maupun nada. Pergerakan akord dari conconant
ke dissonant dan kembali lagi ke conconant, disebut sebagai kadens.
Kadens
inilah yang menjadi pedoman dasar bagi penetapan suatu nada menjadi tonik dalam
suatu frase musik.
Sementara modalitas merupakan tata aturan pergerakan nada-nada
yang telah dikembangkan sejak abad pertengahan, di mana pergerakan nada tidak
disandarkan pada kadens.
Tetapi dalam setiap modus masing-masing memiliki
kecenderungan pergerakan yang dipengaruhi oleh nada finalis dan nada dominan.
Di dalam jazz, modus digunakan sebagai salah satu materi untuk menggembangkan
improvisasi, dimana modus-modus tersebut digunakan di atas suatu akord-akord.
Sehingga memunculkan aturan bagi penempatan modus terhadap akord. Pengaturan
ini berbentuk penetapan bahwa dalam suatu tipe akord tertentu dapat dimainkan
modus-modus tertentu. Tipe akord sendiri dibagi dalam tiga bentuk, mayor 7,
minor 7, dan dominant 7. Dimana dalam tiap tipenya dikembangkan dengan
nada-nada tambahan yang intervalnya semakin jauh. Teknik ini disebut sebagai
chord superimposition.
Dari kedua tradisi tersebut, mengakibatkan harmoni yang
dikembangkan dalam jazz menjadi begitu rumitnya (ditinjau dari kajian
musikologis). Sementara secara praktis akord-akord yang muncul akan terdengar
sangat dissonance. Jika tidak yakin buktikan saja. Cobalah memainkan akord C
mayor (yang berisi nada C, E, G), kemudian bandingkan dengan akord C mayor 13
(yang berisi nada C, E, G, B, D, F#, A). Atau ketika anda memainkan akord
dominant, umpamanya G7, gantilah akord tersebut dengan tritonenya: D(7. Jujur
secara naluriah, telinga seluruh manusia di dunia (bukan cuma ‘telinga dangdut’
kita) akan setuju kalau akord C mayor lebih mudah dicerna ketimbang C mayor 13.
Musik dalam Belenggu
“Rezim Industri Musik”
Inilah yang terjadi. Dangdut, pop/rock, dan hampir seluruh musik
yang dibesarkan oleh ‘rezim industri musik’ memiliki struktur harmoni yang
relativ lebih sederhana. Paling hanya triad mayor dan triad minor, sedikit
dominant 7, triad diminished-pun jarang. Bahkan musik rock hanya
mengeksploitasi power chord (yang hanya berisi dua nada: 1 dan 5) yang
dimainkan oleh gitar dengan sound distortion yang pecah. Tentu ungkapan ini
bukan bukan ditujukan untuk
mendiskreditkan musik-musik tersebut. Saya sama sekali tidak mengatakan bahwa
musik-musik tersebut buruk dan tidak bermutu. Tetapi kenyataan bahwa
musik-musik tersebut disusun dengan gramatik yang sangat sederhana, adalah
benar adanya. Kita semua tentu tahu, sederhana tidak identik dengan buruk dan
tidak bermutu (rupanya kajian tentang ‘mutu’ inipun membuka peluang perdebatan
pula). Kesederhanaan gramatik ini bukan tanpa alasan tentunya. Pihak label
rekaman tentu ingin produknya laris di pasaran. Segala carapun ditempuh
termasuk penyederhanaan gramatik musik, dan biasanya jurus ini cukup ampuh.
Artinya apa? Ketika suatu musik disederhanakan gramatiknya, lazimnya membuat
musik tersebut semakin mudah dicerna. Dan ini merupakan keniscayaan dari
perkembangan industri musik, kalau tidak ingin menyebutnya sebagai
pemberangusan kreativitas.
Jazz sendiri bukannya tidak dibesarkan oleh industri musik. Pada
awalnya justru jazz besar dari industri musik yang berupa entertainment
(kelahiran swing). Kita tahu benar bahwa combo-combo jazz yang ternama pada
waktu itu banyak lahir dari pub, night-club, dan semacamnya. Tetapi lama
kelamaan kondisinya menjadi sama juga. Di mana komersialisasi hampir selalu
diikuti dengan kompromi pada pasar dan relatif diikuti penurunan mutu karya.
Adalah suatu kenyataan yang menyakitkan ketika Duke Elington (1899-1974)
menyaksikan swing menjadi karya yang latah dan tidak menunjukkan perkembangan
yang signifikan. Kemudian dia berjuang untuk menunjukkan agar musiknya dapat
diterima sebagai musik hiburan sekaligus ‘musik seni’. Atau jangan lupa pada
reaksi masyarakat terhadap bebop, ketika pertama kali bebop muncul dengan
gramatik musik yang lebih luas dan rumit, sebagai jawaban musisi-musisi jazz
negro atas keprihatinan mereka terhadap swing. Dimana masyarakat tidak serta
merta menerima musik yang ‘keras’penuh dengan chromaticism dan dissonance ini.
Cobalah kita lihat ketika Charlie Parker (1920-1955) mengungkapkan bahwa dia
bosan mendengar akord-akord yang klise, kemudian lambat laun mendengar
akord-akord yang lebih luas dan rumit, kemudian sedikit demi sedikit dia dapat
memainkannya. Charlie musisi besar yang belajar musik dari Schoenberg, Webern,
Strawinsky (musisi-musisi kontemporer ‘musik tradisional Barat’), itupun tidak
dapat dengan serta merta mencerna harmoni yang lebih lebar dar rumit. Dan
kenyataannya memang tidak mudah.
Mungkin kita juga perlu mengingat ketika Miles Davis (1926-1992)
‘dipaksa’ oleh label rekamannya Columbia untuk
merubah gaya musiknya agar ‘lebih dapat diterima
masyarakat’ karena penjualan album-album Davis
mulai mengalami penurunnya (ketika itu sedang booming gaya jazz rock). Dan akhirnya Davis menyederhanakan
musiknya, seperti yang terjadi pada musik-musik jazz rock yang lain. Kemudian
albumnya laris manis bak kacang goreng yang penjualnya menggunakan dukun
penglaris. Di sini kita lihat, dalam musik jazz-pun terjadi fenomena perbedaan
gramatik, yang mengakibatkan musik yang memiliki gramatik
lebih sederhana menjadi lebih mudah diterima serta dicerna oleh siapapun, tanpa
membedakan ‘gedongan’ dan ‘Kampungan’.
Kesimpulannya adalah: dalam tahap-tahap tertentu, dalam masyarakat
dimana jazz lahirpun, tidak mudah mensosialisasikan perkembangan harmoni yang
cenderung semakin rumit ini (Memang tidak semua gaya jazz disusun atas harmoni yang rumit,
jazz-rock/fusion contohnya. Banyak komposisi fusion yang menahan satu akord
sepanjang berpuluh-puluh birama. Bandingkan dengan bebop yang dalam kondisi
tempo sangat cepat, menaruh dua akord dalam satu birama, dengan akord
dissonance pula).
Harmoni Jazz vs Harmoni
Dangdut
Penulis percaya, bahwa musik merupakan semacam bahasa dari suatu budaya.
Di mana jika musik tersebut ‘dibiasakan’ pada suatu komunitas tertentu, maka
lambat laun komunitas yang bersangkutan akan terbiasa terhadap musik tersebut.
Namun logika perbandingan harmoni jazz dengan harmoni dangdut bagi masing
masing komunitasnya, tentu tidak bisa segegabah itu. Kalau tidak percaya sekali
lagi dengarkan dan bandingkan akord C mayor dengan C mayor 13.
Apakah ‘ketidak nyamanan’ akord C mayor 13 ini hanya merupakan ‘relativitas
budaya’? Atau lebih karena nada-nada penyusun musik dan tonalitas adalah
natural dan inherent.
Kita mungkin juga perlu mempertimbangkan bahwa akord-akord yang menyusun
dangdut, dan akord-akord yang menyusun jazz, sama-sama dibangun di atas budaya
harmoni tonal. Jadi siapa bilang harmoni dangdut dan harmoni jazz adalah dua
budaya yang berbeda? Dan yakinkah kita jika ‘orang New-Oerleans’ akan asing
mendengar harmoni dangdut? Coba perdengarkan pada orang tersebut triad mayor
dan triad minor (akord-akord yang biasa digunakan dalam harmoni
dangdut). Pasti si ‘orang New-Orleans’ itu tidak akan asing dengan akord
tersebut. Dan ternyata kata kuncinya cuma satu, ‘harmoni’. Mungkin penggunaan
kata ini tidak cukup tepat.
Mengatur Strategi
Sekarang persoalannya adalah, dengan strategi apa
mensosialisasikan jazz di tanah air tercinta? Ini tentu bukan persoalan mudah
yang dapat dicetuskan oleh satu orang. Mungkin setelah mengatasi persoalan
elitis dan eksklusifisme yang melingkupinya, salah satu hal yang mesti
dipertimbangkan adalah kenyataan bahwa gramatika musik jazz memang relativ
lebih rumit dibanding musik populer lain (meskipun tidak semua gaya jazz memiliki gramatika yang rumit,
namun yang sering disebut sebagai inti musik jazz biasanya memiliki gramatika
yang rumit). Oleh karena itu proses pembelajaran apresiasi atas musik jazz
mesti dilakukan bertahap, mulai dari yang sederhana (easy listening) terus
meningkat sampai free jazz yang free tonality itu (padahal musik-musik atonal
biasanya hanya bisa diapresiasi dengan rasio bukan dengan rasa). Tidak mudah
memang. Semoga kita tidak cukup naif untuk terlampau heroik membela ‘kaum yang
lemah’ agar bisa menikmati free jazz. (*/dari
berbagai sumber/WartaJazz.com)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar